TAG

Saat Euforia Go-Jek Berakhir

Go-Jek sedang berada di tengah euforia yang ditandai dengan kemajuan pesat, diiringi banjir bonus dari perusahaan. Apa yang akan terjadi ketika "Gojekforia" ini berakhir?

Jumat, 28 Agustus 2015 | 10:30 WIB

Oik Yusuf/ Kompas.com Helm hijau Go-Jek menjadi salah satu penanda identitas pengendara ojek yang tergabung dalam layanan ojek panggilan tersebut


Oleh: Lahandi Baskoro

“Penghasilan Driver Go-Jek Capai Rp11 Juta per Bulan”, begitu headline salah satu media yang memberitakan tentang Go-Jek.

Awal bulan lalu, Kompas.com juga memberitakan bahwa Go-Jek adalah startup Indonesia dengan pertumbuhan nomor satu.

Secara kasat mata, bagi kita yang tinggal di Jabodetabek dapat dengan mudah melihat kian banyaknya driver Go-Jek dengan ciri khas helm hijaunya yang berseliweran di jalan raya.

Standar pelayanan, kemudahan pemesanan, tarif promosi flat yang murah serta insentif bonus user get user membuat penduduk metropolitan berbondong mencobanya.

Penetrasi yang Agresif

Tahun lalu, Go-Jek mendapat investasi dari Northstar Group yang nilainya tidak disebutkan. Pada kuartal kedua tahun 2015 ini Go-Jek kembali mendapat pendanaan dari Sequoia Capital, yang besarannya juga dirahasiakan dari media.

Sebagai gambaran perkiraan masifnya pendanaan yang diberikan, tahun lalu online marketplace Tokopedia mendapat pendanaan dari koalisi Sequoia Capital dan SoftBank dengan nominal sebesar 100 juta dollar, yang jika dirupiahkan dengan kurs saat ini sekitar 1,4 triliun rupiah.

Bukan kebetulan, tak lama setelah mendapatkan pendanaan dari Sequoia Capital Go-Jek agresif melakukan perekrutan talenta, memberikan harga promosi yang amat menarik serta memberikan insentif baik di sisi customer maupun driver untuk mendorong percepatan penetrasi pasar.

Di sisi customer, Go-Jek memberlakukan tarif flat yang murah meriah plus memberikan insentif 50 ribu rupiah dalam bentuk Go-Jek Credit  jika mereferensikan Go-Jek kepada calon pengguna lain.

Strategi ini berhasil mendorong Go-Jek tembus angka satu juta pesanan pada awal Juli tahun ini, sekitar enam bulan setelah versi aplikasinya diluncurkan.

Di sisi driver, Go-Jek akan mensubsidi selisih biaya antara tarif flat dengan tarif yang seharusnya. Driver juga akan diberikan tambahan 50 ribu rupiah untuk setiap lima kali order yang berhasil dijalankan.

Mungkin ada insentif-insentif lainnya, namun setidaknya itulah yang saya tahu dari hasil obrolan dengan para driver Go-Jek.

Tingginya demand dan besarnya insentif ini jelas membuat banyak orang tertarik untuk bergabung menjadi driver Go-Jek.

Awal Agustus ini dikabarkan bahwa tak kurang dari 15 ribu orang yang telah menjadi driver Go-Jek.  Ditambah lagi dengan open recruitment masal yang dilakukan di Senayan pasca Lebaran kemarin, kemungkinan jumlah driver Go-Jek sat ini lebih dari 20 ribu orang.

Gojek-foria

Harga promosi dan insentif yang diberikan Go-Jek otomatis mendorong pertumbuhan demand disisi customer.

Ditambah lagi dengan hebohnya pemberitaan mengenai Go-Jek di media tentang besarnya pendapatan yang bisa didapatkan oleh para driver, maka ini bisa dibaca sebagai euforia masyarakat terhadap pertumbuhan layanan ini, istilah saya: Gojekforia.

Ojek on demand dengan harga yang amat murah adalah solusi praktis untuk menjawab kebutuhan warga Jabodetabek dan kota besar lainnya untuk gesit menembus kemacetan kota. Sebuah solusi yang belum bisa diberikan oleh transportasi publik kita.

Namun sampai kapan pihak Go-Jek harus senantiasa boncos membiayai strategi user acquisition dengan model seperti ini? Belum lagi ditambah biaya operasional Go-Jek yang diantaranya memberikan masker dan shower cap bagi customernya serta helm dan jaket bagi driver.

Rencana menuju harga yang rasional sudah disampaikan sang CEO, Nadiem Makarim pada awal Agustus ini di salah satu media. Beliau mengutarakan hal yang masih menahan Go-Jek untuk menuju harga normal adalah sang kompetitor utama, GrabBike yang masih memberikan harga promosi.

Artinya saat GrabBike berhenti memberikan tarif promosi, maka tinggal tunggu waktu pihak Go-Jek akan menutup keran insentifnya.

Minggu lalu, Go-Jek sudah mulai menaikkan tarif promosi yang tadinya 10 ribu rupiah sekarang menjadi 15 ribu rupiah. Sinyal-sinyal layanan ojek on demand ini untuk menuju harga normal sudah mulai terlihat.

Prediksi saya, jika tarif menjadi normal, maka demand Go-Jek lebih kecil dari sekarang, dari yang tadinya mass market menjadi segmen kelas menengah yang non price-sensitive dan membutuhkan kenyamanan serta kecepatan untuk mencapai tujuan.

Kesetiaan & Tarif Promosi

Sesaat setelah tarif flat Go-Jek naik ke 15 ribu rupiah, saya menanyakan kepada sang driver berapa harga yang seharusnya saya bayarkan untuk rute yang baru saja saya jalani, yaitu Stasiun Pondok Cina sampai Cimanggis, Depok.

Sang driver menunjukkan di layar ponselnya besaran tarif normalnya adalah 41 ribu rupiah dengan rincian dibayar oleh saya 15 ribu rupiah, dan disubsidi oleh Go-Jek dikirim langsung ke rekeningnya sebesar 17.800 rupiah, sisanya merupakan bagian yang diambil Go-Jek.

Biaya 15 ribu rupiah untuk rute Cimanggis - Pondok Cina jelas harga yang menarik bagi saya, namun harga 41 ribu rupiah untuk layanan ojek akan membuat saya berpikir lagi untuk menggunakan Go-Jek secara harian.

Bahkan harga ini kalah bersaing dengan langganan ojek pangkalan disini yang memberikan harga di kisaran 30 ribuan untuk rute yang sama.

Selama tarif promosi ini saya masih setia menggunakan Go-Jek.

Yang menarik untuk dilihat adalah fenomena para manajer dan karyawan lainnya yang kemarin meninggalkan kerja kantoran untuk beralih profesi menjadi full-time driver Go-Jek.

Apakah mereka akan tetap setia menjadi driver Go-Jek saat harga promo berakhir dan demand Go-Jek menuju titik keseimbangan baru?

Lahandi Baskoro Lahandi Baskoro
Lahandi Baskoro adalah dosen di Fakultas Industri Kreatif Universitas Trilogi yang memiliki ketertarikan pada technopreneurship, new media dan kreativitas. Penulis buku It’s My Startup! yang telah menjadi national best seller. Beberapa opininya bisa dibaca di blognya: lahandi.be

Editor: Oik Yusuf
COMMENTS
BERITA LAINNYA
Game Buatan Indonesia Ini Laris di iOS dan Android

Game Buatan Indonesia Ini Laris di iOS dan Android

Tren, Rabu, 18 Mei 2016 | 15:05 WIB

Game Warung Chain buatan studio Touchten mencapai peringkat atas di toko aplikasi iOS. Selain itu, game ini juga laris manis di Android.

Hyundai Bikin

Hyundai Bikin "Baju Iron Man" Sungguhan

Tren, Minggu, 15 Mei 2016 | 16:54 WIB

Hyundai membuat baju ala Iron Man. Untuk apa?

Android Baru Asus Ini Dilengkapi TV Tuner

Android Baru Asus Ini Dilengkapi TV Tuner

Gadget, Sabtu, 14 Mei 2016 | 13:46 WIB

Smartphone baru Asus ini berusaha tampil beda. Ia dilengkapi dengan fitur yang dijamin bisa membuat penggunanya nonton siaran televisi lokal di mana saja.

Fuze Tomahawk F1, Konsol Campuran PS4 dan XBox One

Fuze Tomahawk F1, Konsol Campuran PS4 dan XBox One

Gadget, Kamis, 12 Mei 2016 | 17:55 WIB

Fuze merilis sebuah konsol baru bernama Tomahawk F1. Uniknya, konsol tersebut ternyata merupakan gabungan dua produk terpopuler saat ini, yakni Sony PlayStation 4 (PS4) dan Microsoft XBox One.

Xiaomi Resmi Rilis Mi Max, Punya Layar Berukuran Jumbo

Xiaomi Resmi Rilis Mi Max, Punya Layar Berukuran Jumbo

Gadget, Rabu, 11 Mei 2016 | 12:30 WIB

Xiaomi resmi merilis Mi Mas, smartphone Android bertubuh bongsor. Selain ukuran layarnya yang besar, produk ini juga punya baterai jumbo.

Ini Desain Kostum Baru

Ini Desain Kostum Baru "Power Rangers"

Tren, Senin, 9 Mei 2016 | 15:29 WIB

Kostum baru Power Rangers beredar di internet. Seperti apa?

Ingin Bangun Ruang "Gaming" di Rumah? Ini Tipsnya

Tren, Minggu, 28 Februari 2016 | 16:01 WIB

Ini 10 Aplikasi Penguras Baterai Android

Tren, Rabu, 28 Oktober 2015 | 11:17 WIB